KEABSAHAN SHALAT ASWAJA
Makalah
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Aswaja

Dosen
Pembimbing :
Su’udin Aziz, S.Pd., M.Ag.
Su’udin Aziz, S.Pd., M.Ag.
Disusun oleh :
1. Ach. Syaifudin Za. (201955010104858)
2. Jerin Noer Cahyanti (201955010104872)
3. M. Abdul Dawam (201955010104697)
4. M. Adi Putra (201955010104774)
1. Ach. Syaifudin Za. (201955010104858)
2. Jerin Noer Cahyanti (201955010104872)
3. M. Abdul Dawam (201955010104697)
4. M. Adi Putra (201955010104774)
5. Novia Anjani (201955010104695)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT
AGAMA ISLAM SUNAN GIRI BOJONEGORO
TAHUN
2020
KATA
PENGANTAR
Puji
Tuhan, terima kasih kami ucapkan atas bantuan Tuhan yang telah mempermudah
dalam pembuatan makalah ini, hingga akhirnya terselesaikan tepat waktu. Tanpa
bantuan dari Tuhan, kami bukanlah siapa-siapa. Selain itu, kami juga ingin
mengucapkan terima kasih kepada teman-teman, serta dosen pengajar yang sudah
mendukung hingga titik terakhir ini.
Banyak hal
yang akan kami sampaikan kepada pembaca mengenai “Keabsahan Shalat Aswaja”
Kami
menyadari mungkin ada sesuatu yang salah dalam penulisan, seperti menyampaikan
informasi berbeda sehingga tidak sama dengan pengetahuan pembaca lain. Kami
mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kalimat atau kata-kata yang salah.
Tidak ada manusia yang sempurna kecuali Tuhan.
Demikian kami ucapkan terima
kasih atas waktu Anda telah membaca makalah.
Bojonegoro, 7 April 2020
Penulis
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengertian Ahlussunnah wal Jamaah
Dalam istilah masyarakat Indonesia, aswaja adalah singkatan
dari ahlussunnah waljamaah. Menurut bahasa (etimologi), ada tiga kata yang
membentuk istilah tersebut :
1. Ahl,
berarti keluarga, golongan atau pengikut
2. Al-Sunnah,
segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. maksudnya, semua yang
datang dari nabi SAW, berupa perbuatan, ucapan dan pengakuan Nabi SAW, (Fath
al-Bari, juz XII, hal. 245)
3. Al-Jamaah,
yakni apa yang telah disepakati oleh para sahabt rasulullah SAW pada masa
khulafaur Rasyidin (khalifah Abu Bakr, Umar bin Al-Khatab, Utsman bin Affan dan
Ali bin Abi Thalib)
Sedangkan menurut istilah (terminologi), Ahlussunnah
Waljamaah berasal dari hadits-hadits Nabi SAW yang antara lain
وَالّذِيْ
نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِه لَتَفْتَرِقُ اُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ
فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِى النَّارِقِيْلَ
: مَنْ هُمْ يَارَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : اَهْلُ السُنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ )رواه الطبرانى(
Artinya : “demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad ditangan-Nya akan
terpecah-pecah ummatku sebanyak 73 firqah : “Yang satu masuk surga dan yang
lainnya masuk neraka”. Bertanya para sahabat: “Siapakah firqah (yang tidak
masuk neraka) itu ya Rasulallah?” Nabi menjawab : “Ahlussunnah Waljamaah” (hadits
ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani)
اِنَّ
بَنِى اِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً
وَتَفْتَرِقُ اُمَّتِى عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ
اِلَّامِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوْا وَمَنْ هِيَ يَارَسُوْلَ الله قَلَ : مَااَنَا
عَلَيْهِ وَاَصْحَابِى )رواه
الترمذي(
Artinya : “bahwasanya Bani Israil telah berfirqah. Firqah sebanyak 72 millah (firqah) dan akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah. Semuanya masuk neraka kecuali satu, sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya : “Siapakah yang satu itu ya Rasulallah ?” Nabi menjawab : “Yang satu itu ialah orang yang berpegang (beri’tiqad) senbagai peganganku (istiqadku) dan pegangan sahabat-sahabatku” (hadits ini diriwayatkan oleh Imam Turmudzi)
menurut istilah (terminologi) ialah kaum atau orang-orang
yang menganut ajaran Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan
oleh Rosulullah SAW, sahabat-sahabatnya.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di
atas, maka kita dapat menyimpulkan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Bagaimana keabsahan shalat dlam Aswaja?
2.
Shalat menurut Aswaja?
1.3 Tujuan Penulisan
- Dapat mengetahui keabsahan shalat
aswaja
PEMBAHASAN
2.1 Shalat
Ketidaktahuan seorang mushalli (orang yang
shalat) saat membuat kesalahan tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Ia tidak
berdosa, dan kewajibannya telah gugur, karena kebodohannya. Akan tetapi, bila
ia sudah tahu namun masih melakukannya, maka ia berdosa dan shalatnya tidak
sah. Lebih baik lagi, jika ia tahu tentang tata cara shalat dan melakukannya
dengan benar.
Dalam sebuah kaidah fikih
disebutkan:
العبرة في العبادات بما في ظن
المكلف، والعبرة في المعاملات بما في نفس الأمر
“Yang dianggap dalam ibadah ialah
sangkaan pelaku, sedangkan yang dianggap dalam muamalah ialah kenyataan
perkara.”
Dalam ibadah, termasuk shalat, keabsahan tergantung pada
sangkaan mushalli. Sebagai contoh, bila seseorang berada di tengah
hutan dan tidak tahu arah kiblat, lalu ia berijtihad. Ia meyakini bahwa ia
menghadap pada arah yang benar, padahal kenyataannya ia salah. Shalatnya tetap
sah, karena yang dianggap ialah sangkaannya. Begitu pula pada kasus orang yang
ragu apakah ia kentut di tengah shalat atau tidak. Semua kembali pada
sangkaannya.
2.2 Kesalahan Dalam Shalat
Mari kita
simak lima kesalahan yang lazim dilakukan, agar kita benar melakukan shalat
dalam sangkaan maupun kenyataan. Dalam tulisan yang ringkas ini, penulis hanya
menyebutkan lima poin saja, karena dirasa paling sering muncul.
1. Lambaian Tangan
Sejatinya, semua gerakan tiga
kali atau lebih yang berturut-turut bisa membatalkan shalat. Gerakan yang
dimaksud ialah gerakan selain kewajiban dan kesunnahan shalat. Selain
garuk-garuk, orang sering melakukan lambaian tangan ketika bangun dari rukuk.
Kedua tangan yang melambai ke belakang lalu ke depan, menyebabkan shalatnya
batal. Dua tangan, dua gerakan, hasilnya empat gerakan berat. Gerakan yang
tidak membatalkan ialah gerakan kecil, misalnya gerakan satu jari, hidung,
mata, bibir, lidah, atau zakar.
Namun
dalam Nihayatuz Zain, gerakan berat dan ringan dikembalikan pada
‘urf (kebiasaan/adat). Gerakan tangan seperti lambaian (pergi dan
kembali) dinilai satu gerakan. Karena kebiasaan tangan ialah bergerak. Berbeda
dengan kaki yang kebiasaannya diam, maka gerakan satu langkah diikuti dengan
langkah lagi, dihitung dua gerakan. (Nihayatuz Zain, 89)
2. Membaca dalam hati
Dalam shalat terdapat rukun fi’li (perbuatan)
dan qauli (bacaan). Seringkali dalam melaksanakan rukun
qauli, mushalli tidak mengucapkannya di mulut, tetapi hanya
dibatin dalam hati. Misalnya saat membaca surat al-Fatihah, mulutnya tidak
gerak tiba-tiba langsung rukuk. Yang dimaksud membaca (qiraah) adalah
bacaan yang bisa didengar orang lain maupun diri sendiri. Bacaan yang keras (jahr)
atau didengar oleh telinga sendiri, akan dicatat oleh malaikat. Sementara
bacaan dalam hati tidak dicatat. Itu artinya, membaca rukun dalam hati tidak
cukup membuat shalatnya sah. (Lisanul Arab, I, 128)
3. Mendahului imam
Dalam
shalat jamaah, makmum wajib mengikuti (mutaba’ah/iqtida’) imam di
setiap gerakan. Makmum tidak sah shalatnya jika mendahului takbiratul ihram
imam, juga salam. Batal pula jika mendahului imam dalam dua rukun fi’li,
dengan sengaja dan tahu. Pada keadaan lupa, tidak membatalkan, dan disarankan
untuk kembali pada posisi semula. (Syarah al-Bahjah al-Wardiyah, IV, 294;
Mughnil Muhtaj, III, 321)
4. Merenggangkan kedua kaki sujud
Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut. Kewajiban menutup
aurat untuk menghindari pandangan orang lain dari arah atas dan samping, bukan
bawah. Berkaitan dengan aurat, biasanya bagi laki-laki yang memakai sarung,
selalu kelihatan pahanya saat bersujud. Karena paha adalah bagian dari aurat,
maka shalatnya tidak sah. Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut,
sebaiknya ketika rukuk merapatkan kedua kaki. (Asnal Mathalib, I, 176)
5. Tidak menyempurnakan shaf
Dalam
shalat jamaah, kita dituntut untuk merapikan dan menyempurnakan shaf (barisan).
Namun, kita masih sering abai dengan perintah tersebut. Jamaah yang
membiarkan shaf depannya kosong tidak mendapatkan pahala
shalat jamaah. Begitu pula jika antara kedua shaf atau
antara kedua mushalli lebih dari tiga dzira’ (sekitar
135 cm), maka tidak hasil pahala jamaah. (Nihayatuz Zain, 132)
Itulah
lima kesalahan yang lazim penulis temukan di masjid. Semoga menjadi bahan
evaluasi kita bersama, untuk memperbaiki shalat dan agar bisa saling
mengingatkan satu sama lain.
2.3 Keabsahan Shalat Aswaja
Ini Bukti Keabsahan Shalat
Aswaja sesuai dengan Tuntunan Rasulullah
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ
مَا نَوَى (رواه البخاري)
Rasulullah Saw bersabda:
"(Keabsahan) amal adalah dengan niat. Seseorang hanya mendapatkan apa yang
ia niatkan" (HR al-Bukhari No 1)
2.3.1 Niat
mengucapkan niat dalam salat
bukanlah bid'ah, sebab Rasulullah dalam sebagian ibadahnya juga melafadzkan
niat, diantaranya:
قَالَ أَنَسٌ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحَجٍّ (رواه مسلم 2195)
قَالَ أَنَسٌ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَبَّيْكَ بِعُمْرَةٍ وَحَجٍّ (رواه مسلم 2195)
Anas berkata: Saya mendengar
Rasulullah Saw bersabda (dalam niat haji dan umrah): "Saya penuhi
panggilan-Mu dengan Umrah dan Haji" (HR Muslim No 2195)
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ
شَيْءٌ فَقُلْنَا لاَ قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ (رواه مسلم 1951)
Aisyah berkata: Rasulullah Saw
datang kepada saya lalu bertanya: "Apa ada makanan? Kami menjawab
"Tidak ada". Rasulullah berkata: Kalau begitu saya berpuasa" (HR
Muslim No 1951)
2.3.2 Membaca Takbir
عن أَبي هُرَيْرَةَ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ ثُمَّ
يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ ثُمَّ يَقُولُ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حِينَ
يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنْ الرُّكُوعِ ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ رَبَّنَا وَلَكَ
الْحَمْدُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ
رَأْسَهُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ
ثُمَّ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ فِي الصَّلاَةِ كُلِّهَا حَتَّى يَقْضِيَهَا
وَيُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ مِنْ الْمَثْنَى بَعْدَ الْجُلُوسِ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو
هُرَيْرَةَ إِنِّي َلأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ (صحيح البخاري 747 ومسلم 591)
Abu Hurairah berkata: Jika
Rasulullah mau melaksanakan salat beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian
bertakbir ketika rukuk, kemudian membaca 'Sami'allahu liman hamidahu' ketika
bangun dari rukuk, kemudian dalam posisi berdiri beliau membaca 'Rabbana wa
laka al-hamdu', kemudian bertakbir ketika turun ke posisi sujud, kemudian
bertakbir ketika bangun dari sujud, kemudian bertakbir ketika hendak sujud
(kedua), kemudian bertakbir ketika bangun dari sujud, dan beliau lakukan
seperti itu di semua salat hingga selesai. Dan Rasulullah bertakbir ketika
berdiri dari dua rakaat setelah duduk. Abu Hurairah berkata: "Sungguh saya
yang paling sesuai diantara kalian dengan salat Rasulullah Saw" (HR
Bukhari dan Muslim)
2.3.3 Mengangkat Kedua Tangan
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ إِذَا كَبَّرَ لِلصَّلاَةِ
حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ
الرُّكُوْعِ وَإِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ (رفع اليدين
للبخاري)
"Dari Ali bin Abi Thalib:
Sesungguhnya Rasulullah Saw mengangkat kedua tangannya ketika takbir salat kea
rah dua pundaknya, juga ketika hendak rukuk, bangun dari rukuk dan ketika
bangun dari rakaat kedua" (HR Bukhari dalam kitab Raf'u al-Yadain)
2.3.4 Tangan Bersedekap
عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ هُلْبٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّنَا فَيَأْخُذُ شِمَالَهُ
بِيَمِينِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ هُلْبٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ (رواه الترمذى 234)
وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ يَرَوْنَ
أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ يَمِينَهُ عَلَى شِمَالِهِ فِي الصَّلَاةِ وَرَأَى
بَعْضُهُمْ أَنْ يَضَعَهُمَا فَوْقَ السُّرَّةِ وَرَأَى بَعْضُهُمْ أَنْ
يَضَعَهُمَا تَحْتَ السُّرَّةِ وَكُلُّ ذَلِكَ وَاسِعٌ عِنْدَهُمْ
"Rasulullah Saw menjadi
imam kami kemudian beliau memegang tangan kiri dengan tangan kanan beliau"
(HR Turmudzi No 234). Turmudzi berkata: "Para ulama mengamalkan seperti
ini, baik para sahabat Nabi, Tabiin dan generasi setelahnya, mereka meletakkan
tangan kanannya diatas tangan kiri dalam salat. Mereka melatakkan tangannya
diatas pusar, dan sebagian ulama yang lain meletakkan di bawah pusar. Menurut
mereka ini ditolerir"
بَاب وَضْعِ يَدِهِ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى بَعْدَ
تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ تَحْتَ صَدْرِهِ فَوْقَ سُرَّتِهِ وَوَضْعُهُمَا فِي
السُّجُودِ عَلَى الْأَرْضِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ (صحيح مسلم 2/ 365)
(Bab dalam Sahih Muslim:
"Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri setelah takbiratul ihram,
dibawah dada dan di atas pusar")
Dua riwayat tentang meletakkan
tangan di dada saat salat adalah dlaif
1- حدثنا أبو توبة حدثنا الهيثم عن ثور عن سليمان بن موسى (قال
البخاري عنده مناكير) عن طاووس قال كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يضع يده
اليمنى على يده اليسرى ثم يشد بهما على صدره وهو في الصلاة اهـ المراسيل لأبي داود
(1/ 26)
2- وَرَوَاهُ ابْن خُزَيْمَة أَيْضا فِي «صَحِيحه» عَن وَائِل قَالَ :
«صليت مَعَ رَسُول الله - صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلم - فَوضع يَده الْيُمْنَى
عَلَى (يَده) الْيُسْرَى عَلَى صَدره» . قال الألباني : إسناده ضعيف لأن مؤملا وهو
ابن اسماعيل سيئ الحفظ لكن الحديث صحيح جاء من طرق أخرى بمعناه وفي الوضع على
الصدر أحاديث تشهد له (صحيح ابن خزيمة 1/ 243)
2.3.5 Permulaan Iftitah
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ
بُكْرَةً وَأَصِيلًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ أَنَا يَا
رَسُولَ اللَّهِ قَالَ عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ. قَالَ
ابْنُ عُمَرَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ (رواه مسلم 943)
2.3.6 Doa Iftitah
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ
وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا
أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ
الْمُسْلِمِينَ (رواه مسلم 1290)
2.3.7 Membaca Basmalah Dengan Keras
( قال الشَّافِعِيُّ ) وَبَلَغَنِي أَنَّ ابن عَبَّاسٍ رضي اللَّهُ
عنهما كان يقول إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم كان يَفْتَتِحُ
الْقِرَاءَةَ ببسم اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ (الأم 1/ 107)
Imam Syafii meriwayatkan hadis
dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw mengawali bacaan dengan Bismillah (al-Umm)
وَعَن أبي هُرَيْرَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْه قَالَ قَالَ رَسُول الله
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إِذا قَرَأْتُمْ الْحَمد فأقرؤا بِسم الله
الرَّحْمَن الرَّحِيم إِنَّهَا أم الْقُرْآن وَأم الْكتاب والسبع المثاني وبسم
الله الرَّحْمَن الرَّحِيم إِحْدَى آياتها رَوَاهُ الدَّار قطني بِإِسْنَاد كل
رِجَاله ثِقَات لَا جرم ذكره ابْن السكن فِي سنَنه الصِّحَاح (تحفة المحتاج إلى
أدلة المنهاج لابن الملقن 1/ 292)
2.3.8 Doa I'tidal
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَالَ الْإِمَامُ سَمِعَ
اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ فَإِنَّهُ
مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ (رواه البخاري 754)
عَنْ الْحَكَمِ قَالَ غَلَبَ عَلَى الْكُوفَةِ رَجُلٌ قَدْ
سَمَّاهُ زَمَنَ ابْنِ الْأَشْعَثِ فَأَمَرَ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ
أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ فَكَانَ يُصَلِّي فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ
الرُّكُوعِ قَامَ قَدْرَ مَا أَقُولُ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ
السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ (رواه
مسلم 725)
2.3.9 Doa dalam Rukuk dan Sujud
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ { فَسَبِّحْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ } قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ اجْعَلُوهَا فِي رُكُوعِكُمْ فَلَمَّا نَزَلَتْة { سَبِّحْ اسْمَ
رَبِّكَ الْأَعْلَى } قَالَ اجْعَلُوهَا فِي سُجُودِكُمْ . زَادَ قَالَ فَكَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَكَعَ قَالَ سُبْحَانَ
رَبِّيَ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ ثَلَاثًا وَإِذَا سَجَدَ قَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ
الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ ثَلَاثًا (رواه أبو داود 736) قَالَ أَبُو دَاوُد
وَهَذِهِ الزِّيَادَةُ نَخَافُ أَنْ لَا تَكُونَ مَحْفُوظَةً قَالَ أَبُو دَاوُد
انْفَرَدَ أَهْلُ مِصْرَ بِإِسْنَادِ هَذَيْنِ الْحَدِيثَيْنِ حَدِيثِ الرَّبِيعِ
وَحَدِيثِ أَحْمَدَ بْنِ يُونُسَ
وأما زيادة وبحمده فهي عند أبي داود من حديث عقبة الآتي وعند
الدارقطني من حديث ابن مسعود الآتي أيضا . وعنده أيضا من حديث حذيفة . وعند أحمد
والطبراني من حديث أبي مالك الأشعري وعند الحاكم من حديث أبي جحيفة [ ص 273 ] ولكنه
قال أبو داود بعد إخراجه لها من حديث عقبة أنه يخاف أن لا تكون محفوظة . وفي حديث
ابن مسعود السري بن إسماعيل وهو ضعيف . وفي حديث حذيفة محمد بن عبد الرحمن بن أبي
ليلى وهو ضعيف . وفي حديث أبي مالك شهر بن حوشب وقد رواه أحمد والطبراني أيضا من
طريق ابن السعدي عن أبيه بدونها . وحديث أبي جحيفة قال الحافظ : إسناده ضعيف وقد
أنكر هذه الزيادة ابن الصلاح وغيره ولكن هذه الطرق تتعاضد فيرد بها هذا الإنكار
(نيل الأوطار 2/ 271)
Adapun tambahan 'wa bi hamdihi'
terdapat dalam riwayat Abu Dawud dari Uqbah, juga dalam riwayat Daruquthni dari
Ibnu Mas'ud dan Hudzaifah, dalam riwayat Ahmad dan Thabrani dari Abu Malik al
Asy'ari, dalam riwayat al-Hakim dari Abu Juhaifah. Dalam riwayat-riwayat
tersebut ada beberapa perawi dlaif, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ibnu Shalah
mengingkari tambahan tersebut, tetapi banyaknya riwayat tersebut saling
menguatkan. Dengan demikian pengingkaran tersebut dapat ditolak dengan anyaknya
riwayat-riwayat di atas (Nailul Authar, al-Hafidz Asy-Syaukani, 2/271)
2.3.10 Doa Qunut
يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ
حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا.(رواه أحمد والدارقطني عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ مَا زَالَ رَسُولُ اللهِ
“Diriwayatkan dari Anas Ibn
Malik t. Beliau berkata, “Rasulullah r senantiasa membaca qunut ketika
shalat subuh sehingga beliau wafat.” (Musnad Ahmad bin Hanbal, juz III, hal.
162 [12679], Sunan al-Daraquthni, juz II, hal. 39 [9]).
Sanad hadits ini shahih
sehingga dapat dijadikan pedoman. Imam Nawawi di dalam kitab al-Majmu’
menegaskan:
حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ رَوَاهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الْحُفَّاظِ
وَصَحَّحُوْهُ وَمِمَّنْ نَصَّ عَلَى صِحَّتِهِ اْلحَافِظُ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ
مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍ الْبَلْخِي، وَالْحَاكِمُ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ فِي
مَوَاضِعَ مِنْ كُتُبِ الْبَيْهَقِي وَرَوَاهُ الدَّارَقُطْنِي مِنْ طُرُقٍ
بِأَسَانِيْدَ صَحِيْحَةٍ (المجموع ج 3 ص 504).
“Hadits tersebut adalah shahih.
Diriwayatkan oleh banyak ahli hadits dan mereka kemudian menyatakan
kesahihannya. Di antara orang yang menshahihkannya adalah al-Hafizh Abu
Abdillah Muhammad bin Ali al-Balkhi serta al-Hakim Abu Abdillah di dalam
beberapa tempat di dalam kitab al-Baihaqi. Al-Daraquthni juga meriwayatkannya
dari berbagai jalur sanad yang shahih.” (Al-Majmu’, juz III, hal.
504).
2.3.11 Doa Antara Dua Sujud
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي (رواه الترمذي 284)
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ
قَالَ فَانْتَبَهَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ
اللَّيْلِ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ قَالَ ثُمَّ رَكَعَ قَالَ فَرَأَيْتُهُ قَالَ فِي
رُكُوعِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَحَمِدَ اللَّهَ
مَا شَاءَ أَنْ يَحْمَدَهُ قَالَ ثُمَّ سَجَدَ قَالَ فَكَانَ يَقُولُ فِي
سُجُودِهِ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى قَالَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ قَالَ
فَكَانَ يَقُولُ فِيمَا بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي
وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي (رواه أحمد 5/ 460)
جامع الأحاديث (36/ 281)
39305- عن نافع : أن ابن عمر كان يقوم إذا رفع رأسه من السجدة معتمدا على
يديه قبل أن يرفعهما (عبد الرازق)
أخرجه عبد الرزاق (2/178 ، رقم 2964) .
2.3.12 Bacaan Tasyahud
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ
الْقُرْآنِ فَكَانَ يَقُولُ التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ
الطَّيِّبَاتُ للهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ
وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ (رواه
مسلم 610)
Sayyidina Muhammad
Dalam bacaan salawat Rasulullah
memang tidak menyebutkan lafadz 'Sayidina'. Namun penambahan tersebut bukan
berarti bid'ah terlarang. Sebab dalam beberapa hadis disebutkan kata 'Sayid'
kepada Nabi, seperti Sahal bin Hunaif yang memanggil Rasulullah dengan 'Ya
Sayidi', dan Rasulullah tidak menyalahkannya:
عَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ فَقُلْتُ (لِرَسُوْلِ اللهِ) : يَا
سَيِّدِي وَالرُّقَى صَالِحَةٌ (رواه الحاكم 8270 وقال هذا حديث صحيح الإسناد ولم
يخرجاه . تعليق الذهبي قي التلخيص : صحيح)
Sahabat Abdullah bin Mas'ud
mengajarkan membaca doa dengan tambahan kata 'Sayid':
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ إِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى
رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَحْسِنُوا الصَّلاَةَ عَلَيْهِ
فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ قَالَ فَقَالُوا لَهُ
فَعَلِّمْنَا قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلاَتَكَ وَرَحْمَتَكَ
وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ وَخَاتَمِ
النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ ... (رواه ابن ماجه 896) وأخرجه ابن ماجه من وجه اخر قوى
لكنه موقوف على ابن مسعود (فتح الباري لابن حجر 11/ 158)
Oleh karenya banyak para ulama
yang menganjurkan menyebut kata 'Sayidina' dalam salat:
وَقَوْلُهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ اْلأَوْلَى ذِكْرُ
السِّيَادَةِ ِلأَنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَبِ وَحَدِيْثُ لاَ
تُسَوِّدُوْنِي فِي صَلاَتِكُمْ بَاطِلٌ (إعانة الطالبين 1/ 169)
Hal yang utama adalah menyebut
kata 'Sayid', sebab yang utama adalah menjaga etika. Sedangkan hadis yang
artinya: "Jangan menyebut Sayid kepada saya di dalam salat" adalah
hadis yang salah (I'anatut Thalibin 1/169)
2.3.13 Menambah Bacaan Dzikir dalam Salat
عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا
نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ
رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ
وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ
فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ
بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ
(رواه البخاري 757)
"Seorang sahabat di dalam
salat menambah bacaan Rabbana wa laka al-hamdu… Selesai salat Nabi bertanya:
"Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?" Orang itu menjawab:
"Saya". Nabi bersabda: "Saya melihat ada 30 malaikat lebih yang
bergegas mencatatnya" (HR Bukari)
Dari hadis ini Amirul Mu'minin
fil hadis al-Hafidz Ibnu Hajar berkata:
وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى جَوَازِ إِحْدَاثِ ذِكْرٍ فِي الصَّلاَةِ
غَيْرِ مَأْثُوْرٍ إِذَا كَانَ غَيْرَ مُخَالِفٍ لِلْمَأْثُوْرِ (فتح الباري لابن
حجر 2/ 287)
"Hadis ini dijadikan dalil
diperbolehkannya memperbaharui dzikir di dalam salat yang tidak diajarkan oleh
Rasulullah selama dzikir tersebut tidak bertentangan dengan ajaran
Rasulullah" (Fathul Bari 2/287)
Bahkan hal ini dilakukan oleh
sahabat yang lain:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ قَالَ ابْنُ عُمَرَ زِدْتُ
فِيهَا وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُولُهُ (رواه أبو داود 826)
"Dalam kalimat Syahadat
salat, Ibnu Umar berkata: Saya tambahkan bacaan Wahdahu la syarika lahu…"
(Abu Dawud 826)
2.3.14 Mengusap Wajah Setelah Salam
وعن أنس بن مالك أن النبي صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا صَلَّى
وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ مَسَحَ بِيَمِيْنِهِ عَلَى رَأْسِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللهِ
الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ اللَّهُمَّ أذْهِبْ
عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ، وفي رواية مَسَحَ جَبْهَتَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى
وَقَالَ فِيْهَا اللَّهُمَّ أذْهِبْ عَنِّي الْغَمَّ وَالْحَزَنَ. (رواه الطبراني
في الأوسط والبزار بنحوه بأسانيد وفيه زيد العمي وقد وثقه غير واحد وضعفه الجمهور،
وبقية رجال أحد إسنادي الطبراني ثقات وفي بعضهم خلاف)
Selesai Salat Rasulullah
mengusap kepala / keningnya dengan tangan kanan dan berdoa…. (HR Thabrani)
2.3.15 Salam Setelah Salat
عَنْ أَبِيْ جُحَيْفَةَ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللهِ r الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ
وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ. كَانَ يَمُرُّ مِنْ
وَرَائِهَا الْمَرْأَةُ وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ
فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ، فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَوَضَعْتُهَا عَلَى
وَجْهِي فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنْ
الْمِسْكِ (صحيح البخاري، 3289).
“Dari Abi Juhaifah ia berkata,
“Pada sebuah perjalanan, Rasulullah r melaksanakan shalat Dhuhur dan Ashar dua
rakaat, sedangkan di depannya terdapat tongkat dan ada seorang perempuan yang
berjalan di belakangnya. (setelah shalat) orang-orang berdiri memegang tangan
Rasulullah r dan menyentuhkannya ke wajah mereka. Akupun berdiri dan memegang
tangan beliau dan menyentuhkannya ke wajahku. Maka aku merasakan tangan beliau lebih
sejuk dari salju dan lebih harum dibandingkan minyak misik.” (Shahih
al-Bukhari, [3289]).
2.3.16 Dzikir Keras Setelah Salat
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas:
اِنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ
مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوْا بِذَلِكَ
إِذَا سَمِعْتُهُ (رواه البخاري)
”Sesungguhnya mengeraskan
(bacaan) dzikir setelah para sahabat selesai melakukan salat wajib sudah ada
sejak masa Nabi Muhammad Saw.” Ibnu Abbas berkata: “Saya mengetahui yang
demikian setelah mereka melakukan salat wajib dan saya mendengarnya” (Bukhari)
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kita sebagai umat islam harus mengetahui dan melaksanakan
ibadah shalat, karena shalat adalah tiang agama, barang siapa yang tidak mau
tahu dan tidak mau melaksanakanya, maka dia telah merobohkan tiang agama dan
akan diancam masuk neraka jahanan. Na’udzu billahi mindzalik.
Dan sebagai saran kita dalam
melaksanakan shalat fardhu harus dengan ikhlas dan setulus hati, tidak ada
unsur paksaan dariorang lain, karena shalat fardhu hukumnya adalah wajib.
3.2 Saran
Pada makalah ini terdapat banyak kekurangan,
baik dari segi susunan kata, penulisan, dan lain sebagainya. Maka kami sebagai
penulis mohon maaf sebesar-besarnya atas kekurangan kami dan kami juga
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Semoga dengn kritik dan
saran yang diberikan bisa kami jadikan pelajaran untuk memperbaiki makalah yang
kami buat kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. NH. Rifa’i,Pintar Ibadah.1999.Jombang:LINTAS MEDIA
http://pengertian,syarat,danrukunfardhu.blogspot.com
http://googlepengertianjama’danqasar.blogspot32.com
http://kiatkiatsholatkhusu’blogspot12/’2google.ardiyansyah.com
http://www.muslimedianews.com/2015/09/ini-bukti-keabsahan-shalat-aswaja.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar